Ads Top

Kebebasan Berekspresi Di Internet

Aku tak butuh sebuah pistol dan sebutir peluru hanya untuk memenangkan pertarungan, sebuah Kebebasan Berekspresi!

Bangsa Indonesia memiliki 45 juta pengguna internet yang mengkases social media terbesar di dunia, sekitar 30,1 juta Facebooker, 6,2 juta pengguna Tweeter, dan sekitar 2,7 blogger anak negeri ikut meramaikan dunia internet sebagai jaringan komunikasi tanpa batas. Sebuah kenyataan bahwa kita tak perlu adanya senjata yang mengakibatkan korban berjatuhan, dengan kebebasan berekspresi di internet secara tak langsung telah memiliki senjata berteknologi tinggi.

kebebasan berekspresi internet

Dengan media yang begitu luas hingga tak cukup sehari menjelajah, social media telah memberikan jalan termudah untuk berbagi dan bernilai dimata orang lain. Sadarkah Anda bahwa saat ini kita tak hanya butuh beras sebagai sembako, tapi media telah menjadi bagian darinya. Sering kita lihat bahwa banyak yang mengeluh ketika tak mampu membeli sembako dengan harga tinggi. Tapi tak pernah mengeluh ketika kenyataan mengatakan bahwa “Sesusah apapun masih tetap bisa berkomunikasi dan jumlah handphone lebih dari satu di setiap rumah”.

Kita hanya melirik apa yang sudah menjadi rutinitas dan sesuatu yang telah menjadi kebutuhan, tapi diam-diam kebutuhan media telah menjangkiti masyarakat tanpa disadari.

Kebebasan Berekspresi Dan Kompetisi Yang Terbatas


Harry Van Yogya, mungkin salah satu dari profesi yang kita anggap sebelah mata. Tapi tidak bagi dirinya yang telah menanamkan kepercayaan bahwa social media akan membantu hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Siapa yang menyangka bahwa dirinya bisa dikenal banyak wisatawan hingga secara tak langsung dari jalinan sahabat mendapatkan tambahan kerjaan, misalnya booking hotel. Dalam menilai profesi sekelasnya yang kita lihat secara umum berkompetisi dengan handphone dan SMS, tentunya ini hanya persaingan lokal. Tapi dia, telah melesat lebih jauh dengan menarik pelanggan dari belahan bumi manapun melalui social media. Bukan hanya trend, social media telah membawa nama seorang penarik becak dikenal dunia, melalui social media yang berujung kemenangan kompetisi.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang miskin, tapi bukan bangsa yang bodoh.” (Kutipan film dokumenter Kalam Kata Org - Linimas(s)a, sumber via ICT Watch).

Dunia terkejut ketika seorang presiden tanah Arab ditaklukkan dengan sosial media, tapi kita terkadang tak sadar sudah jauh lebih dulu melakukan hal yang sama. Tak lupa dengan dukungan Koin Peduli Prita, ataupun dukungan Sejuta Suara Bibit-Chandra, adalah salah satu contoh bahwa kita tak butuh sebuah pistol dan sebutir peluru. Apa yang sudah terjadi saat ini bahwa kita telah menjadi contoh bagi bangsa yang lain dalam hal kebebasan berekspresi internet. Bahkan kini banyak pemilihan dan dukungan yang menggunakan social media sebagai salah satu usaha menarik suara. Mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat provinsi, dukungan suara di social media telah menjadi acuan ataupun statistik tersendiri. Ini adalah suatu keunggulan dimana 'Calon' tak perlu banyak berinteraksi dengan massa, dan bisa dilakukan hanya dengan satu Klik!

Undang undang ITE yang dianggap sebagai pengganjal dalam kebebasan berekspresi internet masih belum mampu menahan gejolak masyarakat. Melalui social media suara rakyat telah meruntuhkan peraturan dan undang undang dengan sangat mudah. Melirik dari kasus sebelumnya bahwa mereka yang telah menjadi tersangka kini bebas akibat suara rakyat. Undang undang hanya akan menjadi acuan hukum dalam menjalankan keadilan, tapi bukan membatasi kebebasan berekspresi. Maka nantinya akan timbul sebuah pertanyaan,

“Akankah undang undang hanya akan menjadi buku tua, dan hukum dikendalikan langsung melalui suara rakyat?”
Mungkin, pada saatnya nanti kita akan melihat bahwa undang-undang bukan lagi menjadi sebuah pondasi hukum. Saat berada di meja hijau, akankah hakim mengambil pooling suara disamping menghadirkan saksi?

Kebebasan berekspresi internet, harus diakui merupakan senjata pamungkas dimana seseorang dengan niat baik akan berakhir baik. Melirik dunia nyata bahwa membangun dan merubuhkan bangunan membutuhkan waktu berhari hari, tapi jangan pernah mencoba merubuhkan seseorang di dunia internet. Membangun sebuah komunitas internet juga butuh waktu berhari hari, tetapi ketika orang lain berusaha meruntuhkan apa yang telah kita bangun hanya membutuhkan waktu dalam hitungan menit. Media begitu tajam hingga mampu menusuk lubuk hati pembaca dan lebih cepat dari apa yang kita bayangkan.


Diantara Dua Pilihan Kebebasan Berekspresi


Tidak seperti postingku sebelumnya yang hanya menyampaikan sisi negatif dari maraknya media saat ini, tapi sebaiknya kita membidik analisa positif dibalik kebebasan berekspresi internet. Seperti gambar ini, sebuah kenyataan bahwa tidak semua dari kita mengambil sisi positif internet, bahkan seorang anak mampu menghabiskan waktu seharian hanya karena sebuah permainan. Kita bukan hidup didalam mesin, tapi hidup diantara mesin-mesin yang bersuara lantang hingga membuat sebagian orang bingung dan terjerumus.

Bilamana seorang awam melihat media yang hanya menyajikan tindakan tak pantas, disaat itulah pandangan negatif muncul seketika bahwa internet hanya merusak generasi kita. Kebebasan berekspresi di negeri kita sudah melebihi ambang batas, menyalah gunakan hak, bahkan tak sedikit berujung penipuan.
Memilih Media seperti memilah kutu didalam beras, yang dahulu biasa dilakukan ibu-ibu kita
Kita sudah terbiasa dengan peralatan techno, atau dari bentuk yang dinamis disebut gadget. Semua bermula dari sini dimana kita seperti memegang sebuah pisau cukur bermata dua, kedua sisi yang bisa dipergunakan dengan ataupun tanpa rencana sekalipun. Yang memprihatinkan dari perkembangan kebebasan berekspresi di negeri ini sering digunakan sebagai praktek berkedok tak jelas, seperti merekrut anggota organisasi, menyebarkan suatu faham yang kita sendiri masih asing mendengarnya, bahkan toko online yang menjual barang dengan harga yang tak mungkin tersaingi. Tak aneh ketika banyak orang yang terjerat, tersesat dengan pemahaman aneh yang secara perlahan menanamkan keyakinan baru dalam diri kita. Adapula yang mengeluh manakala uang sudah diterima tapi barang tak kunjung tiba usai berebelanja di toko online. Harus diakui, masih banyak warga kita yang masih awam berinteraksi melalui internet sehingga melupakan analisa sebagai dasar apapun sebelum bergerak lebih jauh.

Disaat ramainya orang melakukan kampanye umum ataupun bersifat pribadi, analisa dan pemikiran kita tak hanya bertumpu pada satu halaman media. Kebebasan berekspresi tidak semuanya bertumpu pada jalan yang benar, atau kita akan ikut memakan kutu yang tercampur didalam beras! Tak sepantasnya kita menyalahkan semua kesalahan kepada orang tua ketika tak mampu mendampingi anaknya menjelajah internet. Berikan mereka pemahaman yang benar sisi internet sehat, siapapun yang berperan sebagai orang tua tak akan menjamin pengawasan setiap waktu.

Social media, bagi sebagian orang memiliki arti berbeda dan pemahaman berbeda. Saya, Anda, mereka, mempunyai maksud dibalik sosialisasi dunia maya walaupun hanya sebatas memperluas persahabatan. Apa yang saya fikirkan tak akan pernah sama dengan apa yang Anda fikirkan, inilah yang disebut budaya dan karakteristik dalam internet. Setiap orang memiliki karakteristik tersendiri hingga ada yang mampu menuntunnya lebih baik dalam berekspresi di internet. Dan tak sedikit pula yang terjerumus kedalam lembah dosa berakhir pada rasa malu, hina ketika wajah mereka terpajang di internet. Sekali kita ternoda akan sangat sulit menghapusnya dari dunia maya, jangan pernah membayangkan menghapus noda di internet semudah menghapus kata diatas kertas, karena itu kenyataan media. Itu semua hanya dengan satu senjata, ya... senjata yang saat ini kita pegang dan digunakan sehari hari layaknya pakaian.

Dimana pilihan posisi kita, apakah hanya menempatkan diri diantara dua persimpangan yang sewaktu waktu bisa menggoda kita untuk berbuat buruk lebih jauh? Atau langsung nyebur kedalam lautan social media dengan segala kekuatan massa yang kita peroleh dapat mengguncang dunia? Ini hanya dua pilihan yang menentukan bagaimana sebaiknya kita mengatur diri sendiri. Bagi mereka yang sulit dan masih berdiri diantara persimpangan akan selamanya menjadi penonton dan mungkin hanya menjadi pengikut dalam dunia maya. Ya, secara tak langsung kita dituntut untuk lebih mengenali daripada hanya menikmati surga dunia maya. Semua bergantung pada diri kita masing-masing, setebal apapun iman dan sekuat apapun pengetahuan, ketika pemikiran diri sendiri berubah maka semua menjadi kenyataan pahit.

Melalui social media, analisa dan nalar dibutuhkan untuk mencerna lebih jauh tentang pemahaman & menilai kebebasan berekspresi. Bukan salah social media yang semakin berkembang luas karena kita butuh media dan arus teknologi. Zaman akan terus berjalan seiring waktu tapi jangan sampai luput, apapun sajian media yang akan datang semua hanya berdasarkan dua hal. Yang harus kita fahami bahwa, Kebebasan Berekspresi dalam Media lebih tajam dari pisau cukur dan lebih cepat dari sebutir peluru.

101 komentar:

  1. media dengan segala kelebihan dan kekurangannya.. *halah :)

    BalasHapus
  2. Opini dan analisa yang runut mas. Bagus banget :)
    Tapi ehm.. boleh saran ngga ya? Cuma saran kecil sih.
    Judulnya coba dibikin lebih 'menggaet' mas. Contohnya saja: Tajamnya Pisau Cukur Tak Setajam Social Media, atau apalah yg kira2 lebih mantep.

    Soalnya tadi saya mengira akan membaca tulisan tentang cara untuk berekspresi di internet, ternyata membahas tentang penggunaan social media dan internet yg seperti dua mata pisau.

    Memang benar, internet tercipta untuk memudahkan. Tapi jangan sampai dengan kemudahan itu malah memudahkan kita tuk tergiring ke lembah kemunduran, sebagai akibat dari penggunaannya yang salah. Yup, saya setuju.

    Itu saja mas. Sory masalah saran tadi. Mohon dimaafkan bila tak berkenan ya :)
    *bersulang dulu*

    BalasHapus
  3. media adalah penyambung lidah, jadi ya tajamnya sama seprti lidah melebih tajamnya pisau....

    BalasHapus
  4. alhamdulillaah,, ahirnya bsa komen juga di sini...
    dari kemaren ga bisa2 komen lho mas.. nda tau kenapa??? *bingung jadinya.. :D

    BalasHapus
  5. sungguh mengagumkan, ternyata demikian besar potensi bangsa yang rawan korupsi ini dalam mengakses informasi. semoga internet bukan dijadikan sebagai media utk membudayakan penyakit korup.

    BalasHapus
  6. Saleum
    mudah2an tidak terlalu bebas, sehingga akan mempengaruhi jiwa dan prilaku manusia di indonesia yak,
    saleum dmilano

    BalasHapus
  7. Atau cuma mau bilang,..... lebih banyak kekurangannya :D

    BalasHapus
  8. nah, ini yang saya seneng dari komentator, ngga cuma 'manut-manut' tapi memberi saran :D Terima kasih masukannya mas.
    Tadinya saya mikir, ko' judulnya ngga klop ya, tapi itulah akibat menjadi editorial sendiri yang terkadang sering luput :)

    BalasHapus
  9. beneritu mas, media lebih mengena ke sasaran :D

    BalasHapus
  10. Lha,... ini gara2 memet akismet yang ngga tau diri. Sudah syukur saya install, ko' malah mempersulit :lol:

    BalasHapus
  11. Mudah mudahan jangan sampai terjadi, ngga pakai media saja mereka sudah hampir membuat kita amblas :(

    BalasHapus
  12. Peran kita juga penting, tak membiarkan generasi kita terjatuh lebih dalam :)

    BalasHapus
  13. peran orang tua sangat penting untuk menjaga aktifitas anak2 nya di dunia digital ini, kurangnya pengawasan bisa berujung masalah. :D

    BalasHapus
  14. oia bang..itu warnetnya daerah jl.utama ya.??

    BalasHapus
  15. Tapi, apa sanggup mengawasi sepanjang hari? :)

    BalasHapus
  16. memang gak bisa bang, tapi setidaknya bisa memanfaatkan fasilitas dari NAWALA untuk memblokir konten2 yang tidak seharusnya dilihat oleh anak kecil. (lain hal dengan warnet)

    BalasHapus
  17. Bener kata bule.. MENGUASAI MEDIA MENGUASAI DUNIA....

    BalasHapus
  18. Segala sesuatu pasti ada dua sisi yang mengikuti, dan itu (menurut saya) adalah sebuah pilihan. Internet bisa menjadi senjata yang lebih ampuh dari sebuah pistol, mungkin ada benarnya. Namun, internet bisa menjadi senjata yang mematikan, itu juga tak bisa dipungkiri.

    BalasHapus
  19. Beruntung kita hidup di jaman internet, segala sesuatunya menjadi mudah.
    Apalagi yang menggantungkan hidupnya dengan internet, hemm...

    Sayangnya, dampak negatifnya masih banyak...
    Situs biru masih banyak bertebaran...

    BalasHapus
  20. Seperti pinang dibelah dua. Pilih bagian manapun porsinya tetap sama, cuma tujuan dan maksud yang berbeda :D

    BalasHapus
  21. Eh, jangan ngomongin biru, ntar yang punya theme biru terseinggung :lol:
    kalau dampak negatif, sesulit apapun pemblokiran tapi manusia tetap lebih pintar. Jadi pemahaman diri masing2 yang perlu ditanamkan walaupun itu Sulit :D

    BalasHapus
  22. Jadi inget salah satu film yang berambisi membuat Media menjadi pengendali dunia, cuma lupa judulnya :D

    BalasHapus
  23. Internet memang bisa jadi sumber ilmu dan bisa memudahkan segala hal. Asal tidak disalah gunakan...

    BalasHapus
  24. tergantung kita menyikapinya.. :)

    BalasHapus
  25. teknologi itu seperti dua sisi koin mata uang.
    Mau diapakan juga kalo ada apa2, yang disalahkan jangan teknologinya tapi penggunanya.

    BalasHapus
  26. Bahkan menjadi sumber yang belum pernah kita baca di buku manapun :D

    BalasHapus
  27. Semua sama, seperti sisi dua mata pisau, tujuan dan maksud yang menentukan arah selanjutnya :D

    BalasHapus
  28. Oral and Written15 Jun 2011 05.11.00

    ada kekurangan, ada kelebihan...
    happy ngeblog deh pokoke... :D

    BalasHapus
  29. media itu memang luar biasa sekali perannya....
    ada yang memanfaatkannya dengan baik, tak sedikit juga yang menyalahgunakannya....

    BalasHapus
  30. saya sependapat kalau mungkin judulnya lebih bagus kaya yang mas dari bilang, sepert halnya pisau tergantung yang menggunakan, kalau di gunakan untuk kebaikan maka pisau tersebut juga akan bermanfaat bgt juga sebaliknya, dunia internet juga sama

    BalasHapus
  31. Inet ada baiknya dan ada pula buruknya, tergantung bagaimana pengguna inet menyikapinya. Melalui social media, kampanye INSAN harus lebih digencarkan supaya lebih berat ke sisi baik. Walaupun keputusan akhir ada ditangan pengguna inet, tetapi setidaknya kita telah berusaha untuk mengurangi dampak negatif dari inet.

    Seperti kutipan diatas Bangsa Indonesia adalah bangsa yang miskin, tapi bukan bangsa yang bodoh sambung dan diperbodoh oleh sisi negatif dari internet

    BalasHapus
  32. Menurut saya sekarang malah lebih banyak yang menyalahgunakan :(

    BalasHapus
  33. Ah, itu dia masalah judul. Sudah sempat terpublish tapi tak berniat mengganti, saya ini memang ngga perhatian yach. Trims atas masukannya :D

    BalasHapus
  34. Diperbodoh sisi negatif, masukan yang bagus Mas, terima kasih.
    Mudah mudahan banyak yang sadar dengan membaca komentar Kang AMphi :D

    BalasHapus
  35. Happy blogging, yang penting isi posting ngga nyeleneh :D

    BalasHapus
  36. wah ikutan kontes SEo ya sob ? :D
    moga menang deh ;)

    BalasHapus
  37. Saya setuju dengan pembahasannya. Tapi media itu gak seperti pisau cukur. Ketajaman media bermata dua, bisa positif, bisa negatif :D

    BalasHapus
  38. Maakanya kita harus cerdas dalam menggunakan internet...

    BalasHapus
  39. Iya nih judulnya terlalu simple tapi isinya maknyus

    BalasHapus
  40. Ngga, ini cuma tulisan iseng daripada ngga ada postingan :mrgreen:

    BalasHapus
  41. Itu kan cuma kiasan, media terkadang lebih cepat melukai pembaca :)

    BalasHapus
  42. Cerdas dan cermat, itu intinya :)

    BalasHapus
  43. Mulai kepikiran ganti judul *tapi sering revisi juga ngga bagus*

    BalasHapus
  44. kang ian dot com15 Jun 2011 16.51.00

    sebenarnya kita tak akan pernah bisa menghadang berbagai macam daya tarik yang bagaikan obat bius layaknya internet dan segala perniknya itu, yang bisa kita lakukan hanyalah mewajarkan itu semua agar bisa berjalan normal, penuh manfaat dan tidak merugikan orang lain, teknologi memang ibarat pedang bermata dua.. apa yang akan terjadi nanti harusnya kita bs memprediksikannya karena kita yang memegang pedang itu..
    (ngomong apa sih gueee... :D )

    BalasHapus
  45. Salah satu bentuk syukur atas kemajuan zaman (teknologi) adalah menggunakannya dengan baik, mencari sisi positif dan membuang sisi negatif. Walau kenyataannya memang sulit, tapi setidaknya kita mulai untuk diri sendiri. :)

    BalasHapus
  46. Meski teknologi itu sangat dahsyat bak sebilah pisau atau pistol yang bisa membunuh tapi saya termasuk orang yang berprinsip teknologi itu netral. Jadi jangan pernah salahkan teknologi tapi salahkan orang yang menyalahgunakannya. Salahkan para orang tua yang tak bisa mengarahkan anaknya dalam menggunakan internet jika terjadi penyalahgunaan internet ke arah negatif. Betul?

    BalasHapus
  47. Sama seperti ada yang menyebut bahwa kita berdiri di sebuah persimpangan, tinggal pilih jalan terdekat :)

    BalasHapus
  48. Yup, bener. Mulai dari diri sendiri kemudian mengajak orang lain. Tapi, saya sendiri sering terlena apalagi harus membawa orang lain :D

    BalasHapus
  49. Betul mas, sekarang kalau ada berita ribut soal efek negatif yang disalahkan cuma media. Apa selamanya kita terus menerus mengkonsumsi kertas? :)

    BalasHapus
  50. media internet memang telah mengubah pola hidup manusia saat ini. soal dampak negatif, sejak dulu kala kecenderungannya memang yang buruklah yang dominan. maka kebaikan tak cukup diniatkan. mari berupaya.

    BalasHapus
  51. sip deh sob.. memang udah zamannya...

    BalasHapus
  52. Ya, yang namanya surga dunia lebih nikmat, dan setan lebih kuat dari dugaan kita :D

    BalasHapus
  53. social media ibarat pisau. Mesti digunakan secara bijak karena diam-diam tanpa kita sadari memiliki kekuatan yang maha dahsyat.

    Saya jadi teringat cover majalah Times tahun 2006, dimana disana digambarkan sebuah cermin bertuliskan "YOU", the man of the year.

    Artinya saat ini kita telah memasuki era dimana seorang individu, bisa menjadi sosok luar biasa hanya dengan menggunakan bantuan social media dan internet. Tentu tidak hanya dalam hal yang positif, melainkan hal negatif juga.

    Tinggal sejauh mana hati nurani kita memilih. Mau menggunakan semua kekuatan ini dengan bijak dan tujuan positif atau sebaliknya.

    Nice post.

    BalasHapus
  54. yg paling tajam itu memang lidah. dan kini lidah itu bisa tersalurkan di sosial media internet. etika berinternet diIndo memang masih dalam tahap pembelajaran, karna msh banyk yg latah teknologi. berharap pada pemerintah yg bisa memfilter dan memberikan arahan bagaimana seharusnya itu saja tidak cukup karna pemerintah pun sebagian besar berperilaku sama. semoga kekuatan besar internet Indonesia ini bisa segera diperhatikan oleh pihak-pihak yg berwenang

    BalasHapus
  55. Sayangnya, ngga semua dari kita paham bener dengan pisau ditangannya :)

    BalasHapus
  56. Saya sebenernya mendukung dengan program pemerintah sekarang yang berusaha keras memerangi konten. Tapi sayang, penduduknya lebih pinter, mudah2an kedepan lebih baik lagi :D

    BalasHapus
  57. semua hal di dunia pasti ada positif dan negatifnya, tergantung pengemudinya mau bawa ke mana, salah satunya internet

    BalasHapus
  58. yeaaah.. semuanya punya kelebihan dan kekurangan

    blog ini bener2 bikin kaget.. hahah :P

    BalasHapus
  59. Yah, memang itu intinya. tergantung pilihan masing2 :D

    BalasHapus
  60. Saya kira tak se-kaget saat memegang kodok :D

    BalasHapus
  61. Wah, saya telat gaul. Baru tau Pak Harry Van Yogya yang sudah terkenal di twitter itu.

    BalasHapus
  62. apalagi internet, bisa bermanfaat atau malah merugikan.

    BalasHapus
  63. Itulah hebatnya media sosial online, disatu sisi ia bisa dimanfaatkan untuk tujuan positif, namun sisi lain ia menjadi alat penyebar paham, ide, info yang bisa menyesatkan dan memberi pengaruh negatif terhadap sebuah nilai baik yang sudah baku, lalu perlahan-lahan memunculkan budaya baru yang tak sepenuhnya baik.

    BalasHapus
  64. Lebih hebatnya, info sesat tak langsung buka bukaan. Dengan cara lembut dan perlahan yang akhirnya menampung banyak orang :)

    BalasHapus
  65. Kalau butuh tumpangan, bisa di add ID nya, Mbak :P

    BalasHapus
  66. hmmmm sepertinya emg internet skrg telah menjadi kebutuhan pokok setelah beras...nongkrong di internet 3 jam dalam sehari sekarang rasanya tak cukup...butuh tambahan 3 jam lagi :D

    ada yg mau bayarin pulsa saya? hahahh... :lol:

    balik ngeblog lagi nih saya bang, dunia nyata ternyata tak seelok dunia maya :mrgreen: :lol:

    BalasHapus
  67. Nah itu dia, seperti 2 sisi mata uang, ada nilai positif dan negatifnya :D
    Untuk kalangan anank2, jelas orang tua harus mendampinginya.
    Jangan sampai moralnya bakalan rusak...
    Manfaatkan internet sebijak mungkin :)

    BalasHapus
  68. sekarang jamannya memanfaatkam social media ya..., muudah2an selalu positif,
    pak Harry van Yogya itu okeh banget ya

    BalasHapus
  69. Jangan2 ngga ngeblog gara2 ngga ada pulsa? :P
    Dunia nyata ditimpuk sakit, kalo dunia maya ditimpuk malah minta lagi :D

    BalasHapus
  70. Untungnya sekarang pemerintah gencar memerangi pornografi. kalau tidak, ngga terbayang bebasnya anak2 mengakses. Setidaknya mempersulit walaupun masih ada celah :)

    BalasHapus
  71. Ya oke donk, mbak. Orang lain manggil becak dengan telp atau sms, dia yang manggil pake RT dari negri sebrang :P

    BalasHapus
  72. yang pasti kita harus bersyukur dengan adanya media internet seperti sekarang, jadi walaupun jarak kita berjauhan kita dapat dengan mudah meneriman informasi yang bukan hanya dari media yang sekarang sudah rada tercampur arus :D

    BalasHapus
  73. Bersukur itu perlu, bukan hanya teman bahkan wawasan. Bayangin aja, tukang becak dengan wawasan yang bisa melebihi kaum intelek :P

    BalasHapus
  74. dan aku salah satu internet addict yang sudah parah. internet sudah seperti kewajiban seperti halnya sholat 5 waktu :D

    walo ortu gaptek total, tapi alhamdulillah aku bisa memanfaatkan internet sebagai hal yang positif, salah satunya ya toko online ku :)

    BalasHapus
  75. semuanya punya kelebihan, kekurangan dan semuanya ada sisi baik, buruknya itu relatife pada usernya :)

    Salam sejaterah dan adem ayem

    BalasHapus
  76. kita ambil yg baiknya saja,, yg jelek ,, tinggalkan .. :)

    BalasHapus
  77. Tergantung yang menggunakannya juga ya...

    BalasHapus
  78. terkadang dunia digital bisa bikin orang lupa segalanya, lupa makan, lupa tidur, yang lebih parahnya lupa kalo dirinya sedang duduk melototin si kotak monitor.

    yach, diambil positifnya ada deh..
    salam kenal..

    BalasHapus
  79. Wah, itu hebat donk. Bisa menggunakan media menjadi suatu alat pendukung :P

    BalasHapus
  80. Sayang, user anak negri masih banyak yang mengambil sisi negatif dan tak bisa dipungkiri bahwa meluruskan itu hal yang sulit.

    BalasHapus
  81. Seperti di mesjid, tinggalkan (sendal) yang jelek dan ambil yang baik :lol:

    BalasHapus
  82. Saya malah keseringan lupa istri, hingga disuruh tidur diluar bersama monitor :P

    BalasHapus
  83. hmm. artikelnya sangat menarik, seperti ikut kontes, hahahahah...

    Iya mas, temen saya di luar negeri bilang: emang seluruh pemuda di indo punya blog ya? *dia ngerasa blog indo di mana2, hahahahah...

    BalasHapus
  84. ternyata kasusnya sama saja xixiixixi...

    BalasHapus
  85. Kalo mirip dengan kontes, mungkin itu cuma kebetulan saja :D
    Soalnya, wong bule klo BW pasti ketemunya blogger Indonesia, padahal pemiliknya itu2 juga :P

    BalasHapus
  86. "akankah hakim mengambil pooling suara disamping menghadirkan saksi?" Saya rasa opini tersebut tidak bisa terealisasi bro karena pooling juga sekarang sering dimanipulasi... COntohnya saat pilkada,.. masing-masing calon mengatakan poling yang mereka buat akan mengatakan bahwa mereka bisa memenangkan pilkada, namun akhirnya bukti lebih banyak berkata lain... Apalagi dinegara kita pooling masih sering di manipulasi, apalagi untuk pooling di internet

    BalasHapus
  87. Kalau ada yang merealisasikan, saya juga ngga setuju. Pastinya duit akan lebih banyak bicara di polling kan?

    BalasHapus
  88. Bang Anto, dapet tugas nih dari saya di sini. :D
    Kerjain ya Bang! :D

    BalasHapus
  89. dunia internet memang sudah mencandui anak bangsa ini (termasuk saya), bahkan "anak indonesia lebih memilih tidak mandi ketimbang tidak internetan", google sendiri pun memprediksi bahwa pasar indonesia adalah pasar yang sangat pontensial untuk melebarkan sayapnya. setiap detiknya muncul blogger2 baru dan/ atau blogger yang mengembangkan sayapnya. sebagai blogger tentu kita harus mengambil sisi positif dari internet tanpa mengenyampingkan sisi negatifnya, karena dgn internet kita bisa mendapatkan ilmu yang tak terkira dan teman2 baru. pepatah mengatakan "harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya, dan blogger mati meninggalkan postingannya" :)

    BalasHapus
  90. Perkembangan besar-besaran, bahkan dunia tak menyangka kalau perubahan kita terlalu 'melek' internet :P

    BalasHapus
  91. Seperti koin, semuanya punya dua sisi..
    Di satu sisi perkembangan teknologi banyak sekali manfaatnya
    Di sisi lain dampak buruknya pun sangat besar
    Tinggal kita yang harus pintar-pintar memilah

    BalasHapus
  92. Sekarang kalau ngga pinter milih, tersungkur sendiri :)

    BalasHapus
  93. salut dengan harryvanyogya yg dapat memanfaatkan internet dalam usahanya.. suatu sisi positif internet

    BalasHapus
  94. Kreativ, Socmed benar2 membantu dalam bidang apapun

    BalasHapus
  95. dikalah ama tukang becak, jadi malu..
    pelajaran berharga, bahawa intenet tan memandang status maupun profesi kita,,,

    BalasHapus
  96. Internet untuk segala umur dan kalangan, dan semua itu mempermudah kita melebarkan sayap

    BalasHapus
  97. bagus, Gan... jangan pernah padam keinginan bebas kita, dan orangg-orang di sekitar kita

    BalasHapus
  98. Ya Pakdhe, bebas dan berdasarkan kebenaran. Bukan hanya mendengar, tapi merasakan :)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.